Bentengi Generasi dari Dampak Digital: Elly Wahyuni Tekankan Internalisasi Pancasila sebagai Solusi Krisis Moral

 



PRINGSEWU — Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Elly Wahyuni, menyoroti fenomena degradasi moral yang dipicu oleh penyalahgunaan teknologi digital dalam kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP) di Pekon Podosari, Pringsewu, Ahad (18/1/2026). Legislator tersebut memperingatkan bahwa tanpa fondasi ideologi yang kuat, kemajuan teknologi dapat menjadi ancaman bagi persatuan dan keamanan bangsa.

Kegiatan ini menghadirkan perspektif akademis dari Guru Besar FEB Universitas Lampung, Prof. Toto Gunarto, guna mengaitkan nilai-nilai kebangsaan dengan pembangunan ekonomi daerah.

Waspadai Mudarat Teknologi: Dari Geng Motor hingga Terorisme

Dalam orasinya, Elly Wahyuni menekankan bahwa maraknya fenomena geng motor, peredaran narkoba, hingga infiltrasi paham terorisme saat ini banyak memanfaatkan celah teknologi digital (gawai). Ia mengajak orang tua dan tokoh masyarakat untuk lebih selektif dan waspada terhadap arus informasi yang dikonsumsi generasi muda.

“Gadget memiliki manfaat, tetapi juga membawa mudarat yang serius. Kita melihat munculnya geng motor dan potensi terorisme melalui jalur digital. Kita harus khawatir akan masa depan bangsa jika nilai-nilai Pancasila terus memudar di tengah arus teknologi ini,” tegas Elly Wahyuni.

Pancasila sebagai Fondasi Ekonomi Inklusif

Prof. Toto Gunarto memberikan ulasan mendalam mengenai kaitan antara ideologi dan kesejahteraan. Menurutnya, pembangunan ekonomi di Provinsi Lampung—khususnya di wilayah perdesaan—tidak boleh lepas dari prinsip keadilan sosial dan kebersamaan yang terkandung dalam Pancasila.

Poin utama internalisasi nilai dalam pembangunan meliputi:

  • Kesejahteraan Bersama: Menempatkan masyarakat desa sebagai subjek aktif pembangunan.

  • Optimalisasi Potensi Lokal: Mengelola sumber daya daerah dengan menjunjung tinggi nilai persatuan dan keadilan.

  • Ekonomi Inklusif: Memastikan pembangunan tidak hanya dinikmati segelintir pihak, namun menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Menanamkan Nilai dari Lingkungan Terkecil

PIP ini menjadi ruang dialektika bagi warga Pringsewu untuk menyampaikan aspirasi terkait pembangunan wilayah. Elly Wahyuni menutup kegiatan dengan mengingatkan bahwa pengamalan Pancasila harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, sebelum meluas ke dunia pendidikan dan masyarakat umum.

Melalui pembinaan rutin seperti ini, DPRD Provinsi Lampung berkomitmen untuk menjaga agar api nasionalisme dan semangat pengorbanan para pahlawan tetap hidup dalam jiwa setiap warga, sekaligus menjadi tameng terhadap tantangan global yang kian kompleks.

0 Comments