BANDAR LAMPUNG — Menanggapi tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa pekan terakhir, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Deni Ribowo, mengeluarkan peringatan dini kepada pemerintah kabupaten/kota di seluruh Provinsi Lampung. Legislatif mendesak penguatan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi bencana banjir dan tanah longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Deni mengingatkan bahwa koordinasi lintas sektor antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas harus berada dalam posisi siaga satu demi menjamin keselamatan warga.
Peta Kerawanan: Fokus pada Wilayah Perbukitan dan Pemukiman
Berdasarkan tinjauan data dan laporan lapangan, DPRD Lampung menyoroti sejumlah wilayah yang memiliki profil risiko bencana tinggi, yaitu:
Rawan Longsor: Kabupaten Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat (wilayah topografi perbukitan).
Rawan Banjir: Kecamatan Candipuro (Lampung Selatan), Kabupaten Way Kanan, serta beberapa titik krusial di wilayah perkotaan Bandar Lampung.
“Wilayah rawan longsor dan banjir harus mendapatkan perhatian serius. Pemerintah daerah tidak boleh hanya menunggu, tetapi perlu aktif memantau kondisi lapangan secara berkala dan terus mengikuti update informasi dari BMKG,” tegas Deni Ribowo, Kamis (8/1/2026).
Sinergi BPBD dan Basarnas dalam Penanganan Cepat
Komisi V DPRD Lampung mengapresiasi rapat koordinasi yang telah dilakukan BPBD Provinsi selama ini, namun menekankan bahwa implementasi di lapangan harus lebih solid. Kecepatan respons sangat bergantung pada jalur komunikasi yang lancar antara tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Beberapa langkah strategis yang didorong oleh DPRD meliputi:
Edukasi Kesiapsiagaan: Sosialisasi masif kepada masyarakat di zona merah mengenai jalur evakuasi.
Pemantauan Cuaca Real-Time: Sinkronisasi data BMKG dengan unit reaksi cepat di tiap kecamatan.
Soliditas Operasional: Penyiapan logistik dan personel bantuan yang siap diterjunkan dalam waktu singkat.
Imbauan Bagi Masyarakat
Deni Ribowo juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai dan lereng perbukitan. "Kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan mengingat cuaca ekstrem sulit diprediksi secara pasti. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanganan bencana," pungkasnya.
0 Comments