Lampung Selatan – Di saat gedung-gedung terus menjulang dan pembangunan infrastruktur berkembang di berbagai sudut daerah, masih ada sekelompok masyarakat yang harus membangun jalannya sendiri demi sekadar dapat melintas dari satu wilayah ke wilayah lain.
Pagi itu, di Dusun 2A, Desa Fajar Baru, Lampung Selatan, puluhan warga tampak memanggul batang kelapa dan bambu di pundak mereka. Langkah demi langkah dijalani dengan peluh yang mengalir, bukan untuk membangun sesuatu yang megah, melainkan sekadar menghadirkan jalan penghubung bagi kehidupan yang harus terus berjalan.
Miris, mungkin itu kata yang paling dekat menggambarkan keadaan tersebut. Di tengah berbagai cerita tentang kemajuan, masyarakat di wilayah perbatasan nyatanya masih bertahan dengan keterbatasan. Mereka tidak sedang membangun jembatan beton dengan alat berat dan teknologi modern, tetapi merangkai harapan dari batang kelapa dan bambu yang disusun menjadi jembatan darurat.
Jembatan sederhana itu menghubungkan Desa Fajar Baru, Lampung Selatan dengan Way Kandis, Bandar Lampung. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya lintasan kecil di antara dua wilayah. Namun bagi masyarakat sekitar, jembatan itu lebih dari sekadar akses jalan.
Di atasnya, ada anak-anak yang berangkat sekolah, petani yang menuju lahan, warga yang mencari nafkah, hingga aktivitas kehidupan yang terus bergerak dari pagi hingga senja. Sebab ketika akses terputus, yang terhambat bukan hanya perjalanan, tetapi juga roda kehidupan masyarakat.
Kepala Dusun 2A Desa Fajar Baru, Junaidi menjelaskan, jalur tersebut selama ini menjadi akses penting yang setiap hari dimanfaatkan masyarakat. Meski kawasan itu belum padat penduduk dan jalannya belum terbentuk secara utuh, keberadaan jembatan tetap memiliki arti besar.
"Masyarakat setiap hari melintas di sini, baik dari Way Kandis ke Fajar Baru maupun sebaliknya. Mau tidak mau aktivitas tetap harus berjalan meski kondisinya seperti ini," ujarnya.
Di balik batang-batang kelapa yang dipikul bersama, sesungguhnya ada pesan yang lebih besar dari sekadar pembangunan jembatan darurat. Ada harapan yang dipanggul masyarakat agar suatu hari akses yang layak benar-benar hadir.
Masyarakat memahami bahwa titik lokasi jembatan tersebut masuk ke wilayah Kota Bandar Lampung. Namun bagi mereka, kebutuhan akan jembatan permanen bukan soal batas administrasi. Sebab jalan tidak pernah mengenal sekat wilayah.
Terlebih, warga Bandar Lampung yang memiliki lahan pertanian di sekitar Desa Fajar Baru juga turut menggunakan akses tersebut. Karena pada akhirnya, jembatan bukan hanya menyambungkan dua tempat, tetapi juga menyambungkan kehidupan, harapan, dan masa depan banyak orang.
Sementara pembangunan besar terus bergerak di berbagai tempat, warga di perbatasan ini masih menunggu satu hal yang sederhana: sebuah jembatan yang layak, agar mereka tidak lagi harus membangun harapan dari batang kelapa dan bambu. (*)

0 Comments